Ortu Tidak Memaksa Anaknya Jadi Pembalap

Musikpedia – Coba hitung berapa banyak putra atau anak pembalap yang mengikuti jejak orangtuanya? Dunia Formula 1 (F1) adalah salah satu gudangnya. Mulai zaman dahulu kini. Baik yang sama-sama satu arena, yaitu sesama driver balap jet darat, atau beda lokasi seperti F1 dengan reli, dan seterusnya.

Contohnya antara lain Graham Hill dan Damon Hill (Britania Raya), Gilles Villeneuve dan Jacques Villeneuve, Wilson Fittipaldi dan Christian Fittipaldi, Keke Rosberg dan Nico Rosberg, Carlos Sainz Sr dan Carlos Sainz Jr, serta Jos Verstappen dan Max Verstappen.

Read More
Max Verstappen, yang dahulu “ditolak” ayahnya sendiri, diminta menunggu sampai usia enam tahun untuk karting [www.kartcom.com]

Apakah para driver F1 generasi berikut–setelah para bapak mereka ini–didorong bahkan sampai dipaksa agar menjadi driver F1 juga?

Juara Dunia F1 tiga kali Max Verstappen menyatakan teori “paksaan ortu” adalah hal yang tidak berlaku buatnya.

“Justru sebaliknya. Saat itu saya berusia empat tahun, ayah saya sedang latihan di trek, dan ada anak kecil usia tiga tahun sudah main gokart. Saya pun meminta kepada ibu saya agar dapat kesempatan seperti anak itu. Ibu langsung memanggil Ayah dan memintakan kemauan saya. Namun jawabnya: tidak boleh, tunggu sampai kamu berusia enam tahun,” demikian papar Max Verstappen sebagaimana dikutip dari harian terkenal Britania Raya, The Express.

Pebalap Red Bull Max Verstappen di Grand Prix Singapura, Sirkuit Marina Bay, Minggu (2/10/2022) (AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)
Max Verstappen di Grand Prix Singapura, Sirkuit Marina Bay (2022) [AFP/Lillian Suwanrumpha]

Untungnya sang ibu peka, karena enam bulan sesudah permintaan itu, Max Verstappen mendapatkan satu unit gokart. Setelah ibunya berhasil meyakinkan suaminya itu, bahwa sang anak memiliki keinginan kuat.

“Jadi penting bagi orangtua, ya: jangan sampai si anak merasa dipaksa-paksa. Secara umum, bagus kalau sedari kecil menyukai sport otomotif. Namun keputusan mesti diserahkan kepada anak-anak itu sendiri,” tandas lelaki pemegang dwikewarganegaraan, Belgia dan Belanda itu.

“Setiap anak memiliki perbedaan saat bertumbuh, begitu pula pribadinya. Sehingga yang berhasil diterapkan pada si A, pada si B belum tentu, dan sebaliknya,” ungkap Max Verstappen bijak.

Ia pun menambahkan, jatuh bangun sang ayah saat masih menjadi driver F1 membuatnya ikut belajar. Maklum bahwa setelah Max Verstappen menunjukkan kesungguhan akan menjadi pembalap Jos Verstappen menangani sendiri anaknya dengan totalitas.

“Namun buat seorang saya, penanganan model Jos Verstappen yang saya butuhkan. Karena saat masih kecil sudah ditempa Ayah, saat saya masuk Formula 3, kemudian di F1, sudah tidak perlu heran lagi.  Pindah dari balap gokart ke F3 itu yang paling berat. Namun saya bisa melaluinya. Sehingga secara mental saya sudah siap untuk balap jet darat, lengkap dengan segala pemahaman akan kesulitannya,” pungkas Max Verstappen.

Sumber: www.suara.com

Related posts